Berkatalah Yang Baik atau Diam



Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [QS. Al Israa : 53]

“Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam…” [HR Mutafaqun ‘alih].

Pesan Rasulullah saw. Itu menyuruh kita bersifat aktif berbicara, namun pembicaraannya harus bersifat kebaikan. Kalau berbicara kebaikan tidak bisa, maka lebih baik diam saja.

Sekarang, begitu banyak diantara kita yang asal bicara, tanpa menilai apakah pembicaraannya itu baik atau buruk. Dan tanpa berpikir apakah bicara kita itu bernilai pahala atau bernilai dosa. Sesungguhnya lisan kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, jadi hendaklah berhati-hatilah jka berbicara.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat: 12]

Termasuk dalam hal ini adalah bicara dalam hati sendiri yang orang lain tidak mengetahui bahwa hati kita membicarakan seseorang. Lebih baik hati kita dibuat sibuk dengan berzikir kepada ALLAH daripada berbicara macam-macam. Lebih jauh lagi, hendaklah kita aktif melangkah ke tempat yang baik-baik yang di sana kita akan memperoleh pahala. Pergi ke majelis ta’lim, silahturrahim, atau menjenguk orang sakit misalnya. Jika tidak bisa, maka akan diam saja di rumah, itu lebih baik.

Intinya, hidup kita ini haruslah bersifat aktif, tidak pasif. Lisan kita harus berbicara, kaki kita pun harus melangkah. Karena itulah tugas kekhalifahan dan kehambaan kita. Berbuat dan berbuat. Namun jika tidak bisa berbuat hal yang baik, maka diamlah. Termasuk mata dan telinga kita, jika tidak bisa kita gunakan dalam hal kebaikan maka lebih baik tutup dan pejamkanlah. Demikianlah hendaknya.

Finally, berhati-hatilah dalam berbicara. Berkatalah yang baik-baik saja, bila tidak lebih baik diam. Sebelum berbicara, pikirlah terlebih dahulu apakah perkataan yang akan dilontarkan itu akan menyakiti perasaan orang lain atau tidak, membuat resah atau tidak, atau justru malah mengacaukan suasana.

One thought on “Berkatalah Yang Baik atau Diam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s