Tadabbur Doa Ketika Ditimpa Kesedihan dan Kesusahan

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ

قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ

أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي

وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي


“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”

HR. Ahmad dari Ibnu Mas’ud

Doa di atas didasarkan pada hadits dari Abdullah bin Mas’ud radliyallah ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang tertimpa kegundahan dan kesedihan lalu berdoa (dengan doa di atas) . . . melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahannya serta menggantikannya dengan kegembiraan.

Tentang Ibnu Mas’ud

Suatu hari Rasulullah dan Abu Bakar Ash Shiddiq menyuruh penggembala dombanya untuk memerah susu dari seekor kambing yang masih berumur 1 tahun. Wow, bukankah itu hal yang secara logika tidak mungkin terjadi? Tapi inilah kenyataan yang ada. Diperintahkan oleh Rasulullah, ucapkanlah Bismillahirrahmanirrahim. Maka, terjadilah kun fayakuun NYA ALLAH. Keluarkan susu dari kambing yang masih berusia satu tahun tersebut. Masya ALLAH.

Saat itu Ibnu Mas’ud tidaklah mengetahui apa makna kalimat yang ia ucapkannya tadi. Ia pun tidak tahu bahwa orang yang menyuruhnya tadi adalah Rasulullah SAW. Padahal selama ini ia mencari-cari sosok tersbut. Hingga pada akhirnya ia pun bertemu. Ibnu Mas’ud merupakan sosok yang tegar. Dengan beraninya ia membaca ayat-ayat Al Quran dengan menjaharkan suaranya ditengah-tengah orang kafir. Lantas apa yang terjadi saat itu? Ia dipukuli. Bukan hanya itu, Ibnu Mas’ud sangat setia pada Rasululllah SAW. Kemana Rasul, ia pun mengikuti. Istilah sekarang, ngintili. J. Sampai-sampai ketika Rasul hendak memakai sandal saja, Ibnu Mas’ud yang memakaikannya. Ia adalah sosok yang begitu takut jika ibadahnya selama ini bukan karena ALLAH. Ia takut ada hal-hal lain yang mencampurinya. Padahal beliau adalah sosok yang taat beribadah. Bagaimana dengan kita? Beliau pun menekankan pada anak-anaknya agar membaca Surah Al Waqiah. Dalam suatu hadits diriwatkan oleh Bukhari.

“”

Jika diberi dua pilihan:

  1. Doa kita dikabulkan semua
  2. Ada doa kita yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan

Fitrahnya kita memilih pilihan pertama. Tapi coba kita pikirkan, ketika kita memilih itu berarti kita sedang dipersiapkan untuk mengalami kondisi kedua , tapi kita bila kita memilih pilihan kedua, berarti kita sedang dipersiapkan untuk kondisi pertama. Bukankah kehidupan tidak selamanya di atas? Jika kita tetep kekeuh memilih pilihan pertama, maka siapkah kita menjadi orang yang selalu bersyukur? Fitrahnya ketika semua keinginan kita dipenuhi, dikabulkan, rasa syukur itu akan sulit muncul. Namun, ditundanya terkabulnya doa kita justru mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur. Masya ALLAH, betapa adilnya ALLAH SWT pada kita.

Wahai saudaraku, kita ini tak ada yang sempurna. Mungkin ada diantara kita yang kadang bahkan sering mengeluh dengan nasib kita. Ada yang parasnya pas pasan, uangnya pas pasan, mungkin ada pula yang anggota tubuhnya tidak layaknya manusia normal. Ketahuilah sahabat, bahwasanya ALLAH akan menyempurnakan dalam bentuk yang lain. J

Lihatlah QS. Ali Imran: 190

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang

terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”

Maukah kita menjadi ulul albab?

Kalau diberi pilihan, mau pilih yang mana?

Hmmm, ternyata banyak dari kita yang lebih memilih gambar warna kuning dibandingkan merah. Hayooo, mau jadi ulul albab, gak? Ingat, ada fitrah silih berganti. Ayo lihat kembali ayat 190 surah Ali Imran di atas. Ayo, kita tidak selamanya senang, lho. Kalau kita lebih memilih yang warna kuning berarti kita sedang dipersiapkan untuk mengalami yang warna merah. Tapi jika kita memilih yang warna merah berarti kita sedang dipersiapkan mengalami seperti yang warna kuning.

Siapakah orang-orang yang berakal sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 190? Terjawab dalam ayat selanjutnya:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,

maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

[QS. Ali Imran: 191]

Mereka terdiri dari 2 kategori yakni:

  1. Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring
  2. Orang-orang yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Lantas, bagaimana cara mengaplikasikannya pada kehidupan kita:

  1. Berdzikir
  2. Tilawah dan tadabbur Al Quran

Siapa orang-orang yang ulul albab itu?

Yakni orang-orang yang berdzikir, kemudian ia berfikir, lalu ia bertindak.

                Dalam berdoa hendaknya kita punya aturan karena kita akan meminta kepada yang Maha Segalanya. Kepada orang yang jabatannya lebih tinggi saja cara kita meminta pasti lebih sopan dari biasanya, apalagi kalau kita hendak meminta kepada yang menciptakan kita.

Mau tahu caranya?

Mari simak kembali doa di atas tadi:

Ada tiga bagian dari doa ini, yakni:

1. Merendahkan diri di hadapan ALLAH SWT

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku.”

2. Tawassul

“Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu”

Ada tiga macam tawassul, yakni:

  1. Dengan Asma’ul Husna
  2. Dengan amal-amal sholeh yang pernah kita lakukan
  3. Dengan doanya hamba-hamab shaleh yang masih hidup

3. Ungkapkan apa yang kita minta

“agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”

Akhirul Kalam

 

Laa Takhof wa Laa Tahzan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s